Selasa, 01 Juni 2010

KONSEP SUPPLY CHAIN

Supply Chain (rantai pengadaan) atau dikenal dengan sebutan rantai pasok merupakan suatu sistem tempat organisasi atau perusahaan yang mendistribusikan barang hasil produksi dan jasanya kepada para pengguna atau konsumennya. Rantai ini juga merupakan jaringan dari berbagai bentuk organisasi yang saling terkait dengan tujuan yang sama, yaitu melakukan pengadaan atau penyaluran barang tersebut sebaik mungkin. Kata “penyaluran” mungkin dianggap kurang tepat karena istilah Suply meliputi juga proses perubahan produk tersebut, misalnya bahan mentah menjadi produk setengah jadi ataupun produk jadi.

Konsep Supply Chain adalah salah satu konsep baru dalam perspektif suatu persoalan logistik. Konsep model lama melihat logistik sebagai suatu permasalahan intern pada masing-masing perusahaan dan pemecahan masalahnya hanya difokuskan pada pemecahan masalah secara internal pula. Dalam konsep logistik baru ini, permasalahan logistik ditinjau sebagai suatu masalah yang lebih luas dan lebih menyeluruh sejak dari bahan baku sampai menjadi produk jadi yang digunakan oleh konsumen akhir yang merupakan mata rantai dapat didefinisikan sebagai berikut “

“Supply Chain management is a set of approaches utilized to efficintly integrated suppliers, manufakturers, warehouses adn stores; so that merchandise is produced and at the right quantities, to the right locations, at the right time; in order to minimize systemwide cost while satisfying service level requirement (David Simchi Levi et.al., 2000.

Berdasarkan tinjauan definisi tersebut dapat diformulasikan bahwa Supply Chain adalah jaringan logistik (logistics network). Dalam integrasi hubungan ini, terdapat beberapa organisasi utama yang mempunyai kepentingan atau tujuan yang sama yaitu :
• Suppliers
• Manufacturers
• Distribution
• Retail outlets
• Customers

Chain 1 : Suppliers
Jaringan logistik dimulai dari sini, dimana suppliers adalah sumber yang menyediakan bahan pertama (bahan baku), dimana mata rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, subassemblies, suku cadang dan sebagainya. Sumber pertama ini disebut suppliers dalam arti yang murni, ini termasuk juga suppliers, atau sub-suppliers. Jumlah suppliers bisa banyak atau sedikit, tetapi suppliers biasanya berjumlah banyak sekali.

Chain2 : Suppliers  Manufacturer
Mata rantai pertama dihubungkan dengan mata rantai kedua, yaitu manufacturer atau plants atau assembler atau fabricator atau dalam bentuk yang lain yang melakukan kegiatan membuat, memfabrikasi, mengasembling, merakit, mengkonversi ataupun menyelesaikan barang (finishing). Hubungan mata rantai disini telah mempunyai potensi untuk melaksanakan suatu efisiensi dan efektifitas, misalnya dengan melaksanakan pengendalian persedian, bahan setengah jadi dan bahan jadi yang berada di pihak suppliers, manufacturers dan tempat transit merupakan target utama dalam efisiensi dan efektifitas ini. Efisiensi dan efektifitas yang dapat dilakukan adalah sebesar 40% - 60% dapat diperoleh dari inventory carrying cost dimata rantai ini. Dengan menerapkan konsep suppliers partnering dapat diperoleh efisiensi dan efektifitas.

Chain 1-2-3 : Suppliers  Manufacturer  Distribution
Produk jadi yang telah dihasilkan sudah dapat didistribusikan kepada konsumen atau pelanggannya. Walaupun tersedia banyak cara penyaluran barang ke konsumen, yang secara umum melalui distributor dan biasanya di tempuh oleh sebagian besar Supply Chain. Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan ke gudang distributor atau wholesaler atau pedagang besar dalam jumlah yang relatif besar pula dan waktunya nanti pedagang besar dapat menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.

Chain 1-2-3-4 : Suppliers  Manufacturer  Distribution  Retailer Outlets
Pedagang besar biasanya memiliki gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini biasanya digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan lagi kepada pihak pengecer. Sekali lagi disini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventories dan biaya gudang dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang manufaktur maupun ke toko-toko pengecer (retail outlets)
Meskipun beberapa pabrikan dapat secara langsung menjual barang pada konsumen namun secara relatif jumlah yang disalurkan tidak banyak.

Chain 1-2-3-4-5 : Supplier  Manufacturer  Distribution  Retail Outlets  Customers
Para pengecer atau retailer menawarkan produknya secara langsung kepada pelanggan atau pembeli atau pengguna baran tersebut. Yang termasuk outlet adalah toko, warung, mini market toko serba ada, pasar swalayan, mall dan sebagainya. Rantai ini dapat dikatakan sebagai mata rantai terakhir walaupun masih ada anggapan ada satu mata rantai lagi yaitu real konsumen karena pembeli belum tentu pengguna sesungguhnya. Mata rantai baru betul-betul berhenti setelah barang yang bersangkutan tiba di pengguna langsung (konsumen yang sebenarnya) produk atau jasa yang dimaksudkan.

Sumber :
Christoper, Martin. 1998.Logistics and supply chain management: strategies for reducing cost and improving service, London:Prentice-Hall,Inc.

Doubler,Donald W.,dan David N.Burt,1999.,Purcashing and Supply Management:Text and Cases. International edition,sixth edition,New York:McGraw-Hill Companies,Inc.

Levi, David Simchi,Philip Kaminsky, dan Edith Simchi levi,2000.,Designing and managing the Supply Chain: Concepts, Strategies and case studies, Singapore, irwin McGraw-Hill.

Poirer,CharlesC.,1999., Advanced Supply Chain Management: How to Build a Sustained Competitive Advantage, San Fransisco: Berret_Koehler Publishers,Inc.

Richardus Eko Indrajit dan Richardus Djokopranoto,.2002., Konsep Manajemen Supply Chain, Grasindo,Jakarta.

Thomson dan Strickland, 1993.,Strategic management: Concepts &Cases, Seventh Edition.,new York: John Wiley&Sons, Inc.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

7 alat pengawasan mutu (seven tools) dalam Statistical Quality Control

a.        Flowchart Diagram yang menggambarkan urutan suatu proses, dipakai untuk menentukan bagian mana dari proses yang bisa dijadikan...