Minggu, 01 Maret 2015

Tutorial Expert Choice

Expert Choice (EC) merupakan salah satu program aplikasi bantu (software) yang dapat digunakan sebagai salah satu tool untuk membantu para pengambil keputusan dalam menentukan suatu keputusan dalam memilih dari beberapa kriteria alternatif keputusan. EC memberikan penawaran beberapa fasilitas mulai dari input data-data kriteria, dan beberapa alternatif pilihan, sampai dengan
penentuan tujuan. EC relatif mudah untuk diaplikasikan dengan interface yang sederhana. Di samping itu EC memiliki kemampuan lain yang disediakan adalah mampu melakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif sehingga hasilnya dapat dikatakan lebih rasional. Software ini didukung dengan adanya gambar grafik dua dimensi sehingga membuat EC semakin menarik. EC didasarkan pada metode/proses hirarki analitik (Analytic Hierarchi Process/AHP).


File tutorial dapat didonlot disini:

http://www.4shared.com/office/X_e-mEnsba/Dino_EC.html

10 GOLONGAN MAKANAN SAMPAH (JUNK FOOD) YANG DIUMUMKAN WHO



1. Makanan gorengan
Golongan makanan ini kandungan kalorinya tinggi, kandungan lemak/minyak dan oksidanya tinggi. Bila dikonsumsi secara regular dapat menyebabkan kegemukan, mengakibatkan hyperlipitdema dan sakit jantung korener. Dalam prosese menggoreng sering terjadi bnayak zat karsiogenik, hal mana telah dibuktikan kecenderungan kanker bagi mereka yang mengkonsumsi makanan gorengan jauh lebih tinggi dari yang tidak / sedikit mengkonsumsi makanan gorengan.

2. Makanan kalengan
Baik yang berupa buah kalengan atau daging kalengan, kandungan gizinya sudah banyak dirusak, terlebih kandungan vitaminnya hampirseluruhnya dirusak. Terlebih dari itu kandungan proteinnya telah mengalami perubahan sifat hingga penyerapannya diperlambat. Nilai gizinya jauh berkurang. Sealain itu banyak buah kalengan berkadar gula tinggi dan diasup ke tubuh dalam bentuk cair sehingga penyerapannya sangat cepat. Dalam waktu singkat dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat, memberatkan beban pancreas. Bersamaan dengann tingginya kalori, dapat menyebabkan obesitas.

3. Makanan asinan
Dalam proses pengasinan dibutuhkan penambahan garam secara signifikan, hal mana dapat mengakibatkan kandungan garam makanan tersebut melewati batas, menambah beban ginjal. Bagi pengkonsumsi makanan asinan terbut, bahaya hipertensi dihasilkan. Terlebih pada proses pengasinan sering ditambahkan amonium nitrit yang menyebabkan peningkatan bahaya kanker hidung dan tenggorokan. Kadar garam tinggi dapat merusak selaput lender lambung dan usus. Bagi mereka yang secara kontinu mengkonsumsi makanan asin radang lambung dan usus kemungkinan tinggi.

4. Makanan daging yang diproses (ham, sosis, dll)
Dalam makanan golongan tersebut mengandung garam nitrit dapat menyebabkan kanker, juga mengandung pengawet/pewarna dll yang memberatkan beban hati/hepar. Dalam ham dsb kadar natriumnya tinggi, mengkonsumsi dalam jumlah besar dapat mengguncangkan tekanan darah dan memberatkan kerja ginjal.

5. Makanan dari daging berlemak dan jerohan
Walaupun makan ini mengandung protein yang baik, vitamin dan mineral tapi dalam daging berlemak dan jerohan mengandung lemak jenuh dan kolestrol yang sudah divonis sebagai pencetus penyakit jantung. Makan jerohan binatang dalam jumlah banyak dan waktu lama dapat menyebabkan pernyakit jantung koroner dan tumor ganas (kanker usus besar), kanker payudara dll.

6. Olahan Keju
Sering mengkonsumsi olahan keju dapat menyebabkan penambahan berat badan hingga gula drah meninggu. Mengkonsumsi cake/kue keju bertelur menyebabkan kurang gairah makan. Konsumsi makanan berkadar lemak dan gula tinggi sering mengakibatkan pengosongan perut. Banyak kasus terjadinya hyperakiditas dan rasa terbakar.

7. Mi instant
Makanan ini tergolong makanan tinggi garam, miskin vitamin, mineral. Kadar garam tinggi menyebabkan beratnya beban ginjal, meningkatkan tekanan darah dan mengandung trans lipid, memberatkan beban pembuluh darah jantung.

8. Makanan yang dipanggang/dibakar
Mengandung zat penyebab kanker.

9. Sajian manis beku.
Termasuk golongan ini ice cream, cake beku dll. Golongan ini punya 3 masalah karena mengandung mentega tinggi yang menyebabkan obesitas karena kadar gula tinggi mengurangi nafsu makan juga karena temperature rendah sehingga mempengaruhi usus.

10. Manisan kering
Mengandung garam nitrat. Dalam tubuh bergabung dengan ammonium menghasilkan zat karsiogenik juga mengandung esen segai tambahan yang merusak hepar dan organ lain, mengandung garam tinggi yang menyebabkan tekanan darah tinggi dan memberatkan kerja ginjal.

PENGELOLAAN LIMBAH ELEKTRONIK DI INDONESIA

Terjadinya peningkatan permintaan pada peralatan elektronik dan peralatan listrik rumah tangga menimbulkan tantangan dan metode yang tepat pada pengelolaan limbah produk-produk elektronika sehingga tidak memberikan dampak negative pada lingkungan dan kesehatan manusia. Munculnya teknologi baru dalam pembuatan produk-produk baru semakin mempercepat peralatan elektronika menjadi usang dan memperpendek usia pakainya. Misalnya, penggunaan smartphone sekitar 2% pada tahun dan meningkat sekitar 5% pada tahun 2009, dan 13% di tahun 2010. Hal ini didasarkan bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat menjanjikan bagi smartphone dibanding Negara-negara berkembang lainnya [1]. Sehingga dengan demikian dapat diasumsikan bahwa orang-orang di Indonesia mengganti telepon seluler mereka setiap 8 sampai dengan 14 bulan sekali. Hal ini dapat memicu pertumbuhan limbah elektronika yang berasal dari telepon genggam.

Gambar 1. Komponen Elektronika

Terdapat dua sumber utama yang dapat diindentifikasikan sebagai penghasil limbah elektronika dan peralatan listrik di Indonesia yaitu limbah elektronika domestik dan pembuangan limbah elektronika dan peralatan listrik yang diimpor dari negara lain. Adapun limbah elektronika dan peralatan listrik domestik yang dihasilkan dari sektor tersebut Antara lain rumah tangga, komersial, institusi pemerintahan, produsen elektronik dan pengecer, pasar sekunder perangkat elektronik bekas. Rumah tangga memiliki kontribusi yang lebih besar dalam hal generasi peralatan elektronika usang. Biasanya, rumah tangga menjual perlengkapan elektronik dan listrik yang tidak terpakai pada pedagang barang bekas (tukang rombeng) melalui transaksi yang tidak resmi, sementara sector komersial dan institusi pemerintah menjual peralatan elektronik mereka langsung ke pengepul besar. Sementara impor peralatan elektronika dan peralatan listrik bekas dari luar negeri juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap permasalahan pengelolaan limbah elektronika. Disamping itu rendahnya biaya pengolahan, biaya tenaga kerja yang juga rendah dan masih lemahnya penegakan peraturan perundang-undangan lingkungan hidup terkait dengan pengelolaan limbah elektronika juga menjadi alasan utama mudahnya impor secara ilegal peralatan elektronika dan listrik tersebut.



China merupakan salah satu negara tujuan impor peralatan elektronika dan listrik terbesar selain Indonesia. Indonesia sebenarnya juga merupakan salah satu negara yang meratifikasi perjanjian Basel. Perjanjian internasional ini telah diberlakukan sejak tahun 1992, dimana berdasarkan hasil konvensi tersebut terdapat fokus utama yaitu perpindahan limbah elektronika lintas batas negara hanya dapat dilakukan jika terdapat ijin tertulis dari negara yang mengekspor yang ditujukan kepada pejabat yang berwenang dari negara pengimpor [2]. UNEP juga menjelaskan bahwa limbah berbahaya dari peralatan elektronika dan peralatan listrik harus dikelola pada lokasi yang paling dekat dengan lokasi dimana produk tersebut diproduksi atau dihasilkan. Pemerintah Indonesia sebenarnya menyadari bahwa limbah elektronika dapat memunculkan potensi permasalahan yang cukup kompleks bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Akan tetapi, keadaan dilapangan seringkali menjadikan peraturan menjadi lemah, misalnya dalam dokumen impor limbah elektronika yang masuk sering menggunakan istilah umum seperti “logam bekas campuran” atau “plastik untuk didaur ulang”. Hal ini dilakukan oleh oknum sebagai upaya untuk menghindari kontrol dari departemen terkait [3; 4].




Menurut Widyarsana, sangat sulit menemukan limbah elektronika dan peralatan listrik yang dibuang ke tempat penampungan sampah sementara (TPS) ataupun tempat pembuangan akhir sampah (TPA) [5]. Hal ini dikarenakan karena sektor informal telah mengambil peranan yang cukup penting dalam proses daur ulang limbah peralatan elektronika dan listrik yang berasal dari rumah tangga. Lebih lanjut, Damanhuri dalam studinya menyatakan bahwa limbah peralatan elektronika dan peralatan listrik cenderung dianggap sebagai salah satu subyek yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup menjanjikan [6]. Sektor informal yang menggantungkan hidupnya dari daur ulang limbah elektronika dan peralatan listrik dengan mengambil material yang mereka anggap masih bernilai ekonomis tanpa memperhatikan bahaya kesehatan dan kurangnya perhatian terhadap keselamatan dan dampak lingkungan yang dapat terjadi. Secara umum, aliran limbah peralatan elektronika dan peralatan listrik di Indonesia dapat diketahui melalui tiga jalur ang saling berhubungan, yaitu peralatan elektronika baru dibeli, dijual kepada pihak kedua dan dibuang bersama sampah rumah tangga. Minimnya fasilitas daur ulang yang dibuat oleh pemerintah baik pusat maupun daerah menyebabkan sampah jenis elektronika dan listrik harus melalui sektor informal.





Sumber pustaka:




[1] Anonim, Tiap 8 Bulan Orang Indonesia Ganti Smartphone, terdapat pada: http://www.neohoster.com/blog/tiap-8-bulan-orang-indonesia-ganti-smartphone (diakses 31 Januari 2014)



[2] UNEP, 2006. Secretariat of the Basel Convention, Geneva, Switzerland, Terdapat pada: www.basel.int. (diakses pada 01 Februari 2014)



[3] Khrisna, G., 2003, E-waste: computers and toxicity in India.,Sarai reader, 2003, 12-14.


[4] Agustina H., “The Challenges of E-Waste/WEEE Management in Indonesia,” The Regional Workshop on E-waste/WEEE Management UNEP-DTIE-IETC in collaboration with the Global Environment Centre, Osaka, 2010.


[5]  Widyarsana, I. M. W. “Pengembangan metode proyeksi timbulan limbah “e-waste” berdasarkan masa pakai (end-of-life) barang “e-product” sebagai dasar dalam prediksi Material Flow Analysis,” Ph.D Dissertation, Dept. of Environmental Engineering, Institute Technology of Bandung, Indonesia, 2011


[6] Damanhuri, E. 2006. Preliminary identification of E-waste flows in Indonesia and its hazard characteristics. The 3rd annual conference of The National Institute of Environmental Studies. Japan.


Ebook Six Sigma for Electronics Design and Manufacturing





Six sigma is becoming more important as companies compete in a
worldwide market for high-quality, low-cost products. Successful implementations
of six sigma in different companies, large and small, do
not follow identical scripts. The tools and methodologies of six sigma
are fused with the company’s culture to create a unique and successful
blend in each instance...

Silahkan didownload di:

ADVANCED ANALYSIS AND DESIGN FOR FIRE SAFETY OF STEEL STRUCTURES






Advanced Analysis and Design for Fire Safety of Steel Structures presents a systematic description of recent research achievements on behaviors of structural steel components in a fire, such as the catenary actions of restrained steel beams, the design methods of restrained steel columns and the membrane actions of concrete floor slabs with steel decks in a fire….

Download link ada disini:

https://www.dropbox.com/s/v2uewx1l4wfxbsi/advanced%20analysis%20and%20design%20for%20fire%20safety%20of%20steel%20structure.pdf?dl=0

EBOOK – ASSEMBLY LINE DESIGN



This new book ‘Assembly Line Design’ by Dr Brahim Rekiek and Professor Alain Delchambre is an important contribution in this domain. Its interest is in an integrated approach to the preliminary design of assembly lines (ALs). This approach is based on the grouping genetic algorithm (GGA), where the logical layout (LL) is designed to consider all the constraints and specificities of real-life manual and hybrid multi-product ALs. The LL is defined as
the balancing and the resource planning….





silahkan disedot, link-nya ada di:

https://www.dropbox.com/s/agxi9e5lykghq1f/Assembly%20line%20design.pdf?dl=0

E-BOOK USING GAME THEORY TO IMPROVE SAFETY WITHIN CHEMICAL INDUSTRIAL PARKS







The chemical industry covers several industrial sectors, including production of chemicals and the pharmaceutical industry but also the industries manufacturing, e.g., paints, varnishes, soaps, detergents, etc. The common element in these sectors is the handling of chemicals on an industrial scale. Companies storing and transporting hazardous chemicals may also be considered part of this industry.

Silahkan di download disini:

https://www.dropbox.com/s/olgfyn6n23xyg30/using%20game%20theory.pdf?dl=0

PEMBACA ADALAH “PEMIMPIN”

Kalimat ini saya dapatkan di salah satu perpustakaan sekolah dasar yang ada di Perth-Western Australia. Kalimat ini dibuat oleh petugas di perpustakaan sekolah memasang foto-foto anak-anak yang membaca buku jenis apa saja yang ada di perpustakaan. Saya hanya dapat menyimpulkan secara awal makna yang dibuat oleh petugas tersebut, adalah bagaimana jika sejak usia dini sudah dibiasakan membaca buku bacaan dan buku pengetahuan yang ada di perpustakaan sekolah akan memberikan efek yang luar biasa di masa depan anak-anak tersebut. Kita tahu, kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kebiasaan belajar yang dimanifestasikan oleh kemauan membaca dan menyerap informasi. Kebiasaan dan kemampuan membaca memberikan sumbangan penting bagi pembentukan pengetahuan, keluasan wawasan, dan kecerdasan. Selain itu, kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi meningkatkan angka melek huruf yang secara langsung menentukan kualitas bangsa.

Mengapa? Jawabannya karena semakin sering anak-anak membaca buku ilmu pengetahuan, sejarah dan lain-lain yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah, maka akan dapat membekali pengetahuan pada anak-anak dalam rangka mempersiapkan masa depan anak-anak tersebut. Ini bisa terjadi karena, semua pihak yang berkepentingan terhadap masa depan anak (baca: orang tua, sekolah dan pemerintah) di kota Perth saling bekerja sama untuk mendorong anak-anak gemar membaca buku, sehingga tidak jarang sejak kecil anak-anak sudah mempunyai koleksi buku bacaan dan buku ilmu pengetahuan atau lainnya di rumah masing-masing. Orang tua tidak hanya membelikan mainan elektronik atau mainan lainnya, tetapi juga membelikan atau meminjam buku bacaan dari perpustakaan yang ada di sekolah atau di perpustakaan yang tersedia disetiap lingkungan rumah agar anak-anak mereka banyak membaca. Pihak sekolah mempunyai kurikulum yang mengajak siswa-siswi untuk terus membaca dan merangkum bacaan mereka melalui tugas-tugas sekolahnya, sedangkan pemerintah juga memfasilitasi dan mengatur para penerbit buku untuk membuat buku bacaan, ilmu pengetahuan dan lain-lain yang disesuaikan dengan usia siswa-siswi.




Sementara itu di negeri kelahiranku, kebiasaan dan minat membaca boleh dibilang sangat rendah. Hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada orang-orang dewasa. Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa minat baca di masyarakat kita sangat rendah. Kita bisa mengambil contoh yang paling sederhana, mari kita tanya petugas perpustakaan yang ada disekolah anak-anak kita. Berapa banyak anak-anak yang datang ke perpustakaan untuk meminjam atau membaca buku. Insya Allah jawabannya adalah sekitar 10-20% dari total jumlah siswa-siswi tersebut datang ke perpustakaan untuk membaca. Ini sangat berbeda di negara-negara maju, dimana tingkat peminjam buku perpustakaan sekitar 80% dari total siswa-siswi yang ada di sekolah masing-masing.

Kita sebagai orang tua, secara tidak sadar ikut memperburuk angka tersebut, mengapa? Kita lebih suka mendorong atau membelikan anak-anak sebagai penikmat berbagai teknologi digital, seperti televisi, telepon genggam, video game, dan internet. Sampai-sampai mereka melupakan membaca, yang sangat penting untuk membentuk karakter dan kecerdasan. Kita jarang mengajak anak-anak kita untuk menabung untuk membeli sebuah atau beberapa buku bacaan. Kita juga jarang mengajak anak-anak kita ke perpustakaan daerah yang ada di wilayah kita.

Lingkungan sekitar kita juga punya peranan yang signifikan terhadap budaya minat baca. Mengapa? Munkin kita sering mendengar omongan seperti: “Jangan banyak membaca nanti jadi kutu buku dan merusak mata….”. Kalimat ini sama saja seperti ajakan untuk jangan membaca, karena akan merugikan diri sendiri dan merugikan kesehatan. Hal ini tentu saja membuat anak akan mulai meninggalkan buku, karena anak dengan frekuensi membaca buku tinggi (bahkan yang frekuensinya sedang pun sering diberi julukan si kutu buku) akan dicap sebagai anak yang tingkat sosialisasinya rendah.

Sekolah juga punya peranan yang cukup penting dalam pembentukan karakter peserta didik untuk menyenangi membaca buku, terutama buku-buku ilmu pengetahuan penunjang pelajaran sekolah. Banyak sekolah yang lebih mementingkan bangunan fisik dibandingkan dengan fasilitas perpustakaan. Fasilitas perpustakaan yang saya maksudkan disini adalah, jumlah koleksi buku bacaan dan pengaturan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan dan nyaman untuk anak-anak. Sekolah di negara kita juga belum membuat program yang mendorong siswa-siswi untuk gemar membaca, misalnya: membuat bulan atau minggu membaca dengan tema yang bermacam-macam. Contohnya, dalam rangka hari pahlawan, perpustakaan menyediakan beberapa jenis bacaan yang bercerita tentang perjuangan bangsa Indonesia, dan selanjutnya siswa-siswi dapat meminjam salah satu buku tersebut kemudian merangkum dalam bentuk tugas sekolah yang disesuaikan dengan tingkatan kelas.

Penerbit buku, secara tidak langsung juga mempunyai peranan terhadap rendahnya budaya membaca di masyarakat kita. Penerbit buku masih ada yang lebih melihat kelayakan buku dari sisi ekonomis atau layak jual tidak, belum mengarah untuk meningkatkan atau memperbanyak koleksi buku yang akan dicetak. Sehingga hanya mencetak dan menerbitkan buku-buku yang dianggap dapat meningkatkan pendapatan ekonominya saja. Penerbit buku juga ada yang masih “menempel” pada “penguasa pendidikan” untuk dapat memuluskan satu atau beberapa buku pelajaran atau buku bacaan agar setiap sekolah akan/harus membeli ke penerbit tersebut, dan lain-lain.

Pemerintah sebagai fasilitator juga masih belum beranjak untuk membangun budaya membaca buku bagi masyarakat. Pemerintah sepertinya hanya sibuk memikirkan keadaan politik bagi golongan mereka sendiri, sehingga sepertinya mengabaikan apa yang menjadi amanah dalam UUD 1945 untuk mensejahterakan masyarakat kita dalam bidang pendidikan, terutama bidang membaca buku. Pemerintah belum memberikan peningkatan jumlah dan kualitas perpustakaan yang ada di suatu sekolah dan daerah-daerah, dan lain-lain.

Kompleksnya masalah membangun budaya dan kebiasaan membaca pada masyarakat kita akan dapat berlarut-larut sampai beberapa tahun ke depan dan kemungkinan dapat terjadi sampai beberapa generasi mendatang, jika semua komponen yang berada dalam lingkaran tersebut tidak/saling bekerja sama. Harapan saya, semoga teman-teman dan masyarakat Indonesia yang berada dimana saja yang membaca artikel ini bisa menginisiasi kemunculan majalah-majalah anak yang menarik, murah dan berisi untuk mulai menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Buku adalah jendela ilmu, membaca adalah pemimpin…IQRA’ !!!

EBOOK SAMPAH DI SEKITAR KITA



Alhamdulillah…akhirnya saya dapat menyelesaikan buku tentang pendidikan lingkungan hidup yang sangat sederhana ini. Buku ini adalah bagian dari seri buku-buku tentang lingkungan yang akan saya buat. Buku ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saya berharap kritikan dan saran dari semua teman-teman yang telah mendownload buku ini.  Buku ini sengaja tidak dijual di toko-toko buku dengan harapan semua orang bisa mengunduh dengan gratis sebagaimana niatan awal saya untuk berpartisipasi terhadap pembangunan bangsa melalui dunia pendidikan yang saya tekuni. Semoga buku ini dapat menambah pengetahuan anak-anak di Indonesia terutama permasalahan lingkungan sampah. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi motivasi semua pihak dalam rangka menumbuhkan minat dan cinta membaca bagi anak-anak.

Silahkan download di:
https://www.dropbox.com/s/tlkntzk0k0odoqu/Sampah%20di%20Sekitar%20Kita.pdf?dl=0

Selasa, 12 Agustus 2014

Panduan penggunaan Software Expert Choice untuk AHP

Expert Choice (EC) merupakan salah satu program aplikasi bantu  (software) yang dapat digunakan sebagai salah satu tool untuk membantu para pengambil keputusan dalam menentukan suatu keputusan dalam memilih dari beberapa criteria alternative keputusan. EC memberikan penawaran beberapa fasilitas mulai dari input data-data kriteria, dan beberapa alternatif pilihan, sampai dengan penentuan tujuan. EC relatif mudah untuk diaplikasikan dengan interface yang sederhana. Di samping itu EC memiliki kemampuan lain yang disediakan adalah mampu melakukan analisis secara kuantitatif dan kualitatif sehingga hasilnya dapat dikatakan lebih rasional. Software ini didukung dengan adanya gambar grafik dua dimensi sehingga membuat EC semakin menarik. EC didasarkan pada metode/ proses hirarki analitik (Analytic Hierarchi Process/AHP).

Selasa, 01 Juni 2010

KONSEP SUPPLY CHAIN

Supply Chain (rantai pengadaan) atau dikenal dengan sebutan rantai pasok merupakan suatu sistem tempat organisasi atau perusahaan yang mendistribusikan barang hasil produksi dan jasanya kepada para pengguna atau konsumennya. Rantai ini juga merupakan jaringan dari berbagai bentuk organisasi yang saling terkait dengan tujuan yang sama, yaitu melakukan pengadaan atau penyaluran barang tersebut sebaik mungkin. Kata “penyaluran” mungkin dianggap kurang tepat karena istilah Suply meliputi juga proses perubahan produk tersebut, misalnya bahan mentah menjadi produk setengah jadi ataupun produk jadi.

Konsep Supply Chain adalah salah satu konsep baru dalam perspektif suatu persoalan logistik. Konsep model lama melihat logistik sebagai suatu permasalahan intern pada masing-masing perusahaan dan pemecahan masalahnya hanya difokuskan pada pemecahan masalah secara internal pula. Dalam konsep logistik baru ini, permasalahan logistik ditinjau sebagai suatu masalah yang lebih luas dan lebih menyeluruh sejak dari bahan baku sampai menjadi produk jadi yang digunakan oleh konsumen akhir yang merupakan mata rantai dapat didefinisikan sebagai berikut “

“Supply Chain management is a set of approaches utilized to efficintly integrated suppliers, manufakturers, warehouses adn stores; so that merchandise is produced and at the right quantities, to the right locations, at the right time; in order to minimize systemwide cost while satisfying service level requirement (David Simchi Levi et.al., 2000.

Berdasarkan tinjauan definisi tersebut dapat diformulasikan bahwa Supply Chain adalah jaringan logistik (logistics network). Dalam integrasi hubungan ini, terdapat beberapa organisasi utama yang mempunyai kepentingan atau tujuan yang sama yaitu :
• Suppliers
• Manufacturers
• Distribution
• Retail outlets
• Customers

Chain 1 : Suppliers
Jaringan logistik dimulai dari sini, dimana suppliers adalah sumber yang menyediakan bahan pertama (bahan baku), dimana mata rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, subassemblies, suku cadang dan sebagainya. Sumber pertama ini disebut suppliers dalam arti yang murni, ini termasuk juga suppliers, atau sub-suppliers. Jumlah suppliers bisa banyak atau sedikit, tetapi suppliers biasanya berjumlah banyak sekali.

Chain2 : Suppliers  Manufacturer
Mata rantai pertama dihubungkan dengan mata rantai kedua, yaitu manufacturer atau plants atau assembler atau fabricator atau dalam bentuk yang lain yang melakukan kegiatan membuat, memfabrikasi, mengasembling, merakit, mengkonversi ataupun menyelesaikan barang (finishing). Hubungan mata rantai disini telah mempunyai potensi untuk melaksanakan suatu efisiensi dan efektifitas, misalnya dengan melaksanakan pengendalian persedian, bahan setengah jadi dan bahan jadi yang berada di pihak suppliers, manufacturers dan tempat transit merupakan target utama dalam efisiensi dan efektifitas ini. Efisiensi dan efektifitas yang dapat dilakukan adalah sebesar 40% - 60% dapat diperoleh dari inventory carrying cost dimata rantai ini. Dengan menerapkan konsep suppliers partnering dapat diperoleh efisiensi dan efektifitas.

Chain 1-2-3 : Suppliers  Manufacturer  Distribution
Produk jadi yang telah dihasilkan sudah dapat didistribusikan kepada konsumen atau pelanggannya. Walaupun tersedia banyak cara penyaluran barang ke konsumen, yang secara umum melalui distributor dan biasanya di tempuh oleh sebagian besar Supply Chain. Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan ke gudang distributor atau wholesaler atau pedagang besar dalam jumlah yang relatif besar pula dan waktunya nanti pedagang besar dapat menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailers atau pengecer.

Chain 1-2-3-4 : Suppliers  Manufacturer  Distribution  Retailer Outlets
Pedagang besar biasanya memiliki gudang sendiri atau dapat juga menyewa dari pihak lain. Gudang ini biasanya digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan lagi kepada pihak pengecer. Sekali lagi disini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam bentuk jumlah inventories dan biaya gudang dengan cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang manufaktur maupun ke toko-toko pengecer (retail outlets)
Meskipun beberapa pabrikan dapat secara langsung menjual barang pada konsumen namun secara relatif jumlah yang disalurkan tidak banyak.

Chain 1-2-3-4-5 : Supplier  Manufacturer  Distribution  Retail Outlets  Customers
Para pengecer atau retailer menawarkan produknya secara langsung kepada pelanggan atau pembeli atau pengguna baran tersebut. Yang termasuk outlet adalah toko, warung, mini market toko serba ada, pasar swalayan, mall dan sebagainya. Rantai ini dapat dikatakan sebagai mata rantai terakhir walaupun masih ada anggapan ada satu mata rantai lagi yaitu real konsumen karena pembeli belum tentu pengguna sesungguhnya. Mata rantai baru betul-betul berhenti setelah barang yang bersangkutan tiba di pengguna langsung (konsumen yang sebenarnya) produk atau jasa yang dimaksudkan.

Sumber :
Christoper, Martin. 1998.Logistics and supply chain management: strategies for reducing cost and improving service, London:Prentice-Hall,Inc.

Doubler,Donald W.,dan David N.Burt,1999.,Purcashing and Supply Management:Text and Cases. International edition,sixth edition,New York:McGraw-Hill Companies,Inc.

Levi, David Simchi,Philip Kaminsky, dan Edith Simchi levi,2000.,Designing and managing the Supply Chain: Concepts, Strategies and case studies, Singapore, irwin McGraw-Hill.

Poirer,CharlesC.,1999., Advanced Supply Chain Management: How to Build a Sustained Competitive Advantage, San Fransisco: Berret_Koehler Publishers,Inc.

Richardus Eko Indrajit dan Richardus Djokopranoto,.2002., Konsep Manajemen Supply Chain, Grasindo,Jakarta.

Thomson dan Strickland, 1993.,Strategic management: Concepts &Cases, Seventh Edition.,new York: John Wiley&Sons, Inc.

7 alat pengawasan mutu (seven tools) dalam Statistical Quality Control

a.        Flowchart Diagram yang menggambarkan urutan suatu proses, dipakai untuk menentukan bagian mana dari proses yang bisa dijadikan...