Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

CARA PENULISAN DAFTAR PUSTAKA MENGGUNAKAN TIPE A.P.A (AMERICAN PSYCHOLOGICAL ASSOCIATION)


Cara penulisan daftar referensi menurut tipe APA, dapat dilihat seperti contoh di bawah ini:
  • Penulisan Judul pada sumber referensi dari buku awalan huruf besar hanya pada kata pertama. 
  • Jika Sumber referensi berasal dari jurnal maka judul dicetak tegak, sedangkan judul jurnal dicetak miring, dan awalan huruf besar pada judul jurnal.
Agar daftar yang ditulis akurat, sesuai dengan buku atau sumber aslinya maka data referensinya harus ditulis dengan benar dan lengkap.
 Beberapa contoh cara penulisan daftar referensi menurut APA:
  1. Sumber literatur yang terbit secara berkala
Daftar referensi yang diperoleh mencantumkan periode yang terdapat dalam jurnal, majalah, koran dan sejenisnya:
Kernis, M. H., Cornell, D. P., Sun, C., Berry, A., & Harlow, T. (1993). There’s more to self esteem than whether it is high or low: The importance of stability of self esteem. Journal of Personality and Social  Psychology, 65, 1190-1204.
Ket: - 65              : Volume
        - 1190-1204 : Halaman

  1. Sumber literatur yang terbit tidak berkala
Daftar referensi yang didapatkan dengan mencantumkan judul dan subjudul yang terdapat dalam buku, laporan, brosur, buku manual, dan media audiovisual :

O’Neil, J. M., & Egan, J. (1992). Men’s and woman’s gender role journeys: Metaphor for healing, transition, and transformation. In B. R. Wainrib (Ed.), Gender issues accros the life cycle (pp. 107-123). New York: Springer.


¨ Sumber referensi dari jurnal dengan dua (2) orang penulis :
Klimoski, R., & Palmer, S. (1993). The ADA and the hiring process in organizations. Consulting Psychology Journal: Practice and Research, 45, 10-36.

· Sumber referensi dari jurnal dengan jumlah penulis lebih dari 5 orang :
Wolchik, S. A., West, S. G., Sandler, I. N., Tein, J., Coatsworth, D., Lengua, L., et al. (2000). An experimental evaluation of theory-based mother and mother-child program for children of divorce. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 68, 843-856.

   Ket: Jika jumlah penulis lebih dari 6 dalam satu sumber, yang berikutnya gunakan et al.

¨Sumber referensi dari jurnal yang diperoleh dari surat kabar :
Zukerman, M., & Kieffer. S. C. (in press). Race differences in face-ism: does facial prominence imply dominance? Journal of Personality and Social Psychology.

¨ Sumber referensi dari majalah dan koran:
Kandel, E. R., & Squire, L. R. (2000, November 10). Neuroscience: Breaking down scienctific barriers to the study of brain and mind. Science, 290, 1113-1120.

¨ Sumber referensi dari Artikel Koran yang tidak ada penulisnya:
            The new health-care lexicon. (1993, August/September). Copy Editor, 4, 1-2.

¨ Sumber Referensi yang memiliki no issue dan no seri:
Wolchik, S. A., West, S. G., Sandler, I. N., Tein, J., Coatsworth, D. (2000). An experimental evaluation of theory-based mother and mother-child program for children of divorce. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 58(1, Serial No. 231).

¨ Sumber Referensi dari Jurnal Tambahan(Supplement):
Wolchik, S. A., West, S. G., Sandler, I. N., Tein, J., Coatsworth, D. (2000). An experimental evaluation of theory-based mother and mother-child program for children of divorce. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 24(Suppl. 2), 4-14

. ¨ Sumber referensi dari Buku:
Beck, C. A. J., & Sales, B. D. (2001). Family mediation: Fact, myths, and future prospects. Washington, DC: American Psychology Association.

¨ Sumber referensi dari buku edisi ketiga dan nama penulis dengan tambahan Jr. (junior):
Mitchell, T. R. & Larson, J. R., Jr. (1987). People in organizations: An introduction to organizational behavior (3rd ed.). New York: McGraw-Hill.

¨ Sumber dari buku yang telah diedit:
Mitchell, T. R. & Larson, J. R. (Eds.). (1987). People in organizations: An introduction to organizational behavior. New York: McGraw-Hill.

¨ Sumber dari buku tidak disertai nama penulis dan editor:
Merriam-Webster’s collegiate dictionary (10th ed.). (1993). Springfield, MA: Meriam-Webster.


¨ Sumber dari buku yang direvisi:
Beck, C. A. J., Sales, B. D. (2001). Family mediation: Fact, myths, and future prospects (Rev. ed.). Washington, DC: American Psychology Association.

¨ Sumber dari ensiklopedia atau kamus:
Sadie, S. (Ed.). (1980). The new Grove dictionary of music and musicians (6th ed., Vols. 1-20). London: Macmillan.

¨ Sumber dari buku terjemahan bahasa inggris:
Laplace, P. S. (1951). A philosophical essay on probabilities (F. W. Truscott & F. L. Emory, Trans.). New York: Dover. (Original work published 1814).

¨ Sumber dari Brosur:
Research and Training Centre on Independent Living. (1993). Guidelines of reporting and writing about people with disabilities (4th ed.) [brochure]. Lawrance, KS: Author.

¨ Sumber dari media audiovisual:
Scorsese, M. (Prosedure), & Lonergan, K. (Writer/Director). (2001). You can count on me [Motion picture]. United States: Paramount Pictures.

¨ Sumber dari rekaman suara:
Costa, P. T., Jr. (Speaker). (1988). Personality, continuity, and changes of adult life (Cassette Recording No. 207-433-88A-B). Washington, DC: American Psychological Association.

Minggu, 01 Maret 2015

BAHAYA KANKER KULIT YANG DISEBABKAN BAHAN KIMIA DI HAMPIR 100 SAMPO DAN SABUN


Pusat Kesehatan Lingkungan (CEH) Amerika Serikat mengungkapkan pengujian independen, menemukan bahan kimia penyebab kanker di 98 shampoo, sabun dan produk perawatan pribadi lainnya yang dijual dibeberapa toko dan supermarket.  Bahan kimia, cocamide dietanolamina (cocamide DEA), adalah suatu bentuk kimia yang dimodifikasi dari minyak kelapa yang digunakan sebagai pengental dalam berbagai macam produk, dan di negara bagian California Amerika Serikat menggolongkan sebagai bahan kimia tersebut sebagai karsinogen pada tahun lalu.

Produk yang diuji dengan kandungan cocamide DEA tingkat tinggi meliputi shampoo yang dibuat oleh Colgate Palmolive, Colomer, Paul Mitchell dan lainnya. Selain itu, produk yang dipasarkan untuk anak-anak dan produk palsu dengan menggunakan label tertentu sebagai bahan organik yang ditemukan mengandung bahan kimia tersebut, dan hal itu melanggar hukum di negara bagian California.
Dalam banyak kasus, produk yang mengandung lebih dari 10.000 ppm cocamide DEA, dan satu shampo yang diuji terdapat lebih dari 200.000 ppm (20 persen) cocamide DEA. California memasukkan bahan kimia cocamide DEA pada bulan Juni 2012 sebagai zat kimia yang menyebabkan kanker berdasarkan penilaian oleh badan internasional untuk penelitian kanker, yang dievaluasi dengan menggunakan tes pada paparan kulit hewan.
sumber :





http://ecowatch.com/2013/cancer-causing-chemical-in-shampoos/

10 GOLONGAN MAKANAN SAMPAH (JUNK FOOD) YANG DIUMUMKAN WHO



1. Makanan gorengan
Golongan makanan ini kandungan kalorinya tinggi, kandungan lemak/minyak dan oksidanya tinggi. Bila dikonsumsi secara regular dapat menyebabkan kegemukan, mengakibatkan hyperlipitdema dan sakit jantung korener. Dalam prosese menggoreng sering terjadi bnayak zat karsiogenik, hal mana telah dibuktikan kecenderungan kanker bagi mereka yang mengkonsumsi makanan gorengan jauh lebih tinggi dari yang tidak / sedikit mengkonsumsi makanan gorengan.

2. Makanan kalengan
Baik yang berupa buah kalengan atau daging kalengan, kandungan gizinya sudah banyak dirusak, terlebih kandungan vitaminnya hampirseluruhnya dirusak. Terlebih dari itu kandungan proteinnya telah mengalami perubahan sifat hingga penyerapannya diperlambat. Nilai gizinya jauh berkurang. Sealain itu banyak buah kalengan berkadar gula tinggi dan diasup ke tubuh dalam bentuk cair sehingga penyerapannya sangat cepat. Dalam waktu singkat dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat, memberatkan beban pancreas. Bersamaan dengann tingginya kalori, dapat menyebabkan obesitas.

3. Makanan asinan
Dalam proses pengasinan dibutuhkan penambahan garam secara signifikan, hal mana dapat mengakibatkan kandungan garam makanan tersebut melewati batas, menambah beban ginjal. Bagi pengkonsumsi makanan asinan terbut, bahaya hipertensi dihasilkan. Terlebih pada proses pengasinan sering ditambahkan amonium nitrit yang menyebabkan peningkatan bahaya kanker hidung dan tenggorokan. Kadar garam tinggi dapat merusak selaput lender lambung dan usus. Bagi mereka yang secara kontinu mengkonsumsi makanan asin radang lambung dan usus kemungkinan tinggi.

4. Makanan daging yang diproses (ham, sosis, dll)
Dalam makanan golongan tersebut mengandung garam nitrit dapat menyebabkan kanker, juga mengandung pengawet/pewarna dll yang memberatkan beban hati/hepar. Dalam ham dsb kadar natriumnya tinggi, mengkonsumsi dalam jumlah besar dapat mengguncangkan tekanan darah dan memberatkan kerja ginjal.

5. Makanan dari daging berlemak dan jerohan
Walaupun makan ini mengandung protein yang baik, vitamin dan mineral tapi dalam daging berlemak dan jerohan mengandung lemak jenuh dan kolestrol yang sudah divonis sebagai pencetus penyakit jantung. Makan jerohan binatang dalam jumlah banyak dan waktu lama dapat menyebabkan pernyakit jantung koroner dan tumor ganas (kanker usus besar), kanker payudara dll.

6. Olahan Keju
Sering mengkonsumsi olahan keju dapat menyebabkan penambahan berat badan hingga gula drah meninggu. Mengkonsumsi cake/kue keju bertelur menyebabkan kurang gairah makan. Konsumsi makanan berkadar lemak dan gula tinggi sering mengakibatkan pengosongan perut. Banyak kasus terjadinya hyperakiditas dan rasa terbakar.

7. Mi instant
Makanan ini tergolong makanan tinggi garam, miskin vitamin, mineral. Kadar garam tinggi menyebabkan beratnya beban ginjal, meningkatkan tekanan darah dan mengandung trans lipid, memberatkan beban pembuluh darah jantung.

8. Makanan yang dipanggang/dibakar
Mengandung zat penyebab kanker.

9. Sajian manis beku.
Termasuk golongan ini ice cream, cake beku dll. Golongan ini punya 3 masalah karena mengandung mentega tinggi yang menyebabkan obesitas karena kadar gula tinggi mengurangi nafsu makan juga karena temperature rendah sehingga mempengaruhi usus.

10. Manisan kering
Mengandung garam nitrat. Dalam tubuh bergabung dengan ammonium menghasilkan zat karsiogenik juga mengandung esen segai tambahan yang merusak hepar dan organ lain, mengandung garam tinggi yang menyebabkan tekanan darah tinggi dan memberatkan kerja ginjal.

PEMBACA ADALAH “PEMIMPIN”

Kalimat ini saya dapatkan di salah satu perpustakaan sekolah dasar yang ada di Perth-Western Australia. Kalimat ini dibuat oleh petugas di perpustakaan sekolah memasang foto-foto anak-anak yang membaca buku jenis apa saja yang ada di perpustakaan. Saya hanya dapat menyimpulkan secara awal makna yang dibuat oleh petugas tersebut, adalah bagaimana jika sejak usia dini sudah dibiasakan membaca buku bacaan dan buku pengetahuan yang ada di perpustakaan sekolah akan memberikan efek yang luar biasa di masa depan anak-anak tersebut. Kita tahu, kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kebiasaan belajar yang dimanifestasikan oleh kemauan membaca dan menyerap informasi. Kebiasaan dan kemampuan membaca memberikan sumbangan penting bagi pembentukan pengetahuan, keluasan wawasan, dan kecerdasan. Selain itu, kebiasaan dan kemampuan membaca berpotensi meningkatkan angka melek huruf yang secara langsung menentukan kualitas bangsa.

Mengapa? Jawabannya karena semakin sering anak-anak membaca buku ilmu pengetahuan, sejarah dan lain-lain yang dimiliki oleh perpustakaan sekolah, maka akan dapat membekali pengetahuan pada anak-anak dalam rangka mempersiapkan masa depan anak-anak tersebut. Ini bisa terjadi karena, semua pihak yang berkepentingan terhadap masa depan anak (baca: orang tua, sekolah dan pemerintah) di kota Perth saling bekerja sama untuk mendorong anak-anak gemar membaca buku, sehingga tidak jarang sejak kecil anak-anak sudah mempunyai koleksi buku bacaan dan buku ilmu pengetahuan atau lainnya di rumah masing-masing. Orang tua tidak hanya membelikan mainan elektronik atau mainan lainnya, tetapi juga membelikan atau meminjam buku bacaan dari perpustakaan yang ada di sekolah atau di perpustakaan yang tersedia disetiap lingkungan rumah agar anak-anak mereka banyak membaca. Pihak sekolah mempunyai kurikulum yang mengajak siswa-siswi untuk terus membaca dan merangkum bacaan mereka melalui tugas-tugas sekolahnya, sedangkan pemerintah juga memfasilitasi dan mengatur para penerbit buku untuk membuat buku bacaan, ilmu pengetahuan dan lain-lain yang disesuaikan dengan usia siswa-siswi.




Sementara itu di negeri kelahiranku, kebiasaan dan minat membaca boleh dibilang sangat rendah. Hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga pada orang-orang dewasa. Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa minat baca di masyarakat kita sangat rendah. Kita bisa mengambil contoh yang paling sederhana, mari kita tanya petugas perpustakaan yang ada disekolah anak-anak kita. Berapa banyak anak-anak yang datang ke perpustakaan untuk meminjam atau membaca buku. Insya Allah jawabannya adalah sekitar 10-20% dari total jumlah siswa-siswi tersebut datang ke perpustakaan untuk membaca. Ini sangat berbeda di negara-negara maju, dimana tingkat peminjam buku perpustakaan sekitar 80% dari total siswa-siswi yang ada di sekolah masing-masing.

Kita sebagai orang tua, secara tidak sadar ikut memperburuk angka tersebut, mengapa? Kita lebih suka mendorong atau membelikan anak-anak sebagai penikmat berbagai teknologi digital, seperti televisi, telepon genggam, video game, dan internet. Sampai-sampai mereka melupakan membaca, yang sangat penting untuk membentuk karakter dan kecerdasan. Kita jarang mengajak anak-anak kita untuk menabung untuk membeli sebuah atau beberapa buku bacaan. Kita juga jarang mengajak anak-anak kita ke perpustakaan daerah yang ada di wilayah kita.

Lingkungan sekitar kita juga punya peranan yang signifikan terhadap budaya minat baca. Mengapa? Munkin kita sering mendengar omongan seperti: “Jangan banyak membaca nanti jadi kutu buku dan merusak mata….”. Kalimat ini sama saja seperti ajakan untuk jangan membaca, karena akan merugikan diri sendiri dan merugikan kesehatan. Hal ini tentu saja membuat anak akan mulai meninggalkan buku, karena anak dengan frekuensi membaca buku tinggi (bahkan yang frekuensinya sedang pun sering diberi julukan si kutu buku) akan dicap sebagai anak yang tingkat sosialisasinya rendah.

Sekolah juga punya peranan yang cukup penting dalam pembentukan karakter peserta didik untuk menyenangi membaca buku, terutama buku-buku ilmu pengetahuan penunjang pelajaran sekolah. Banyak sekolah yang lebih mementingkan bangunan fisik dibandingkan dengan fasilitas perpustakaan. Fasilitas perpustakaan yang saya maksudkan disini adalah, jumlah koleksi buku bacaan dan pengaturan perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan dan nyaman untuk anak-anak. Sekolah di negara kita juga belum membuat program yang mendorong siswa-siswi untuk gemar membaca, misalnya: membuat bulan atau minggu membaca dengan tema yang bermacam-macam. Contohnya, dalam rangka hari pahlawan, perpustakaan menyediakan beberapa jenis bacaan yang bercerita tentang perjuangan bangsa Indonesia, dan selanjutnya siswa-siswi dapat meminjam salah satu buku tersebut kemudian merangkum dalam bentuk tugas sekolah yang disesuaikan dengan tingkatan kelas.

Penerbit buku, secara tidak langsung juga mempunyai peranan terhadap rendahnya budaya membaca di masyarakat kita. Penerbit buku masih ada yang lebih melihat kelayakan buku dari sisi ekonomis atau layak jual tidak, belum mengarah untuk meningkatkan atau memperbanyak koleksi buku yang akan dicetak. Sehingga hanya mencetak dan menerbitkan buku-buku yang dianggap dapat meningkatkan pendapatan ekonominya saja. Penerbit buku juga ada yang masih “menempel” pada “penguasa pendidikan” untuk dapat memuluskan satu atau beberapa buku pelajaran atau buku bacaan agar setiap sekolah akan/harus membeli ke penerbit tersebut, dan lain-lain.

Pemerintah sebagai fasilitator juga masih belum beranjak untuk membangun budaya membaca buku bagi masyarakat. Pemerintah sepertinya hanya sibuk memikirkan keadaan politik bagi golongan mereka sendiri, sehingga sepertinya mengabaikan apa yang menjadi amanah dalam UUD 1945 untuk mensejahterakan masyarakat kita dalam bidang pendidikan, terutama bidang membaca buku. Pemerintah belum memberikan peningkatan jumlah dan kualitas perpustakaan yang ada di suatu sekolah dan daerah-daerah, dan lain-lain.

Kompleksnya masalah membangun budaya dan kebiasaan membaca pada masyarakat kita akan dapat berlarut-larut sampai beberapa tahun ke depan dan kemungkinan dapat terjadi sampai beberapa generasi mendatang, jika semua komponen yang berada dalam lingkaran tersebut tidak/saling bekerja sama. Harapan saya, semoga teman-teman dan masyarakat Indonesia yang berada dimana saja yang membaca artikel ini bisa menginisiasi kemunculan majalah-majalah anak yang menarik, murah dan berisi untuk mulai menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Buku adalah jendela ilmu, membaca adalah pemimpin…IQRA’ !!!

7 alat pengawasan mutu (seven tools) dalam Statistical Quality Control

a.        Flowchart Diagram yang menggambarkan urutan suatu proses, dipakai untuk menentukan bagian mana dari proses yang bisa dijadikan...